Made with Tripod.com

Friday, August 15, 2003

Sudah?...
Puas?...
terhunuskah pedang tajam dari rasamu?...
terteteskah darah patah dari perempuanmu?...

mata dua yang kau tancapkan perlahan menggoresmu...
api yang kau nyalakan perlahan membakarmu...

tolooong! sakiiit! panaaas!...
kau hanya bisa mengerang saat perempuanmu hilang...
tertunduk lesu dalam pasungan sesakmu...

maafpun sudah dikurungnya...
pastikan tangismu tanpa guna

...untuk kau yang selalu menggangguku...

untuk kau yang selalu mengganguku!...
biarkan aku tidur dalam nyenyaknya khayalan tentangmu
tanpa ada kamu...

untuk kau yang selalu mengganguku!...
biarkan aku bangun dalam segarnya helai pagiku,
tanpa ada kamu...

untuk kau yang selalu mengganguku!...
biarkan aku berjalan dalam indahnya iringan bayanganku,
tanpa ada kamu...

untuk kau yang selalu mengganguku!...
biarkan aku melamunkan senja dalam merdunya rumput kehidupan,
tanpa ada kamu...

untuk kau yang selalu mengganguku!...
biarkan aku dengan mimpiku
tanpa ada kamu...

untuk kau yang selalu mengganguku!...
beritahu aku tentangmu!

-pejompongan 070402-

...berteduh...

saat itu sang hujan memulai untaian katanya...
bercerita tentang keruhnya kesendirian...
selintas anginpun menoleh...
menerbangkan bias-bias angan dari dedaunan...
di mana-mana kosong...
hanya teriakan riak-riak kecil kehidupan yang memekakkan telinga...
aku berdiri...
beranjak mencari tempat teduh...
mencoba sembunyi dari derasnya siksa langit...

Thursday, August 14, 2003

...kakek dan tas hijaunya...

seorang kakek tua terduduk di sampingku...
tangan keriputnya erat mendekap sebuah tas hijau di pangkuannya...

lelah dan lelah...
sorot mata yang redup itu telah mengajari banyak hal...
lekung-lekung hitam itu mulai menapak dalam paksa senja...

tidurlah...
saatnya mnghirup udara segar...

namun bukan padaku untuk menilai...
karnaMu lah banyak yang terajar

-disuatu tempat, antara Jogja-Magelang 29/03/02-

...sesak...

aku mengaduh pada gaduh yang merengkuh...
paku-paku yang tertancap seolah acuh...
membiarkanku terpasung dalam relung termenung...
aku beranjak memandang sempit ujung kamar...
hanya angan kecil yang tersisa...
menempel pada langit-langit tidurku...
sesak...terhimpit sempit

-kirai 270302-